Pada banyak kebun, biaya pupuk menyerap porsi terbesar dari anggaran perawatan. Ketika biaya naik tetapi produksi stagnan, penyebabnya jarang tunggal. Berikut lima hal yang paling sering ditemukan di lapangan.

1. Dosis seragam untuk kondisi yang tidak seragam

Blok dengan jenis tanah, topografi, dan umur tanaman berbeda diberi dosis sama. Akibatnya sebagian areal kelebihan dosis, sebagian lagi kekurangan, dan rata-rata produksi tidak bergerak.

2. Mutu pupuk tidak diverifikasi

Kandungan hara pupuk yang diterima tidak selalu sesuai spesifikasi. Tanpa analisa mutu pupuk, selisih kandungan ini langsung menjadi kerugian yang tidak terlihat pada pembukuan.

3. Faktor pembatas non-hara diabaikan

Drainase buruk, pH sangat masam, atau serangan hama akar membuat hara tidak dapat diserap. Menambah pupuk pada kondisi seperti ini tidak menyelesaikan masalah.

4. Waktu aplikasi tidak tepat

Aplikasi menjelang hujan lebat meningkatkan risiko pencucian, terutama pada tanah dengan KTK rendah. Pupuk terbuang sebelum sempat diserap.

5. Keputusan tanpa data

Program pemupukan yang disusun berdasarkan kebiasaan tahun sebelumnya, bukan berdasarkan hasil analisa tanah dan daun terkini, membuat kebun kehilangan kesempatan melakukan koreksi.

Kelima hal tersebut dapat dikurangi risikonya melalui satu siklus sederhana: analisa tanah dan daun secara berkala, verifikasi mutu pupuk, lalu susun rekomendasi pemupukan berbasis data.